Supergirl Gagal Penuhi Ekspektasi Box Office, Warner Bros Diperkirakan Hadapi Kerugian Besar

Film Supergirl menghadapi awal yang kurang menggembirakan di bioskop. Meski menjadi salah satu proyek penting dalam semesta baru DC Studios, performa film tersebut di box office disebut belum mampu memenuhi target yang diharapkan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi Warner Bros.
Sejumlah laporan industri menyebut pendapatan akhir Supergirl diperkirakan tidak cukup untuk menutupi biaya produksi dan pemasaran yang telah digelontorkan. Dengan anggaran produksi sekitar US$170 juta, ditambah biaya promosi yang besar, analis memperkirakan kerugian studio bisa mencapai US$80–85 juta, atau sekitar Rp2,1 triliun (kurs saat ini).
Film yang dibintangi Milly Alcock sebagai Kara Zor-El itu dibuka dengan hasil yang berada di bawah proyeksi awal. Selain harus bersaing dengan film-film besar yang sedang tayang, Supergirl juga menerima respons yang beragam dari kritikus maupun penonton, sehingga memengaruhi performanya di pekan pertama penayangan.
Bagi Warner Bros dan DC Studios, hasil ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya membangun kembali jagat sinematik DC di bawah kepemimpinan James Gunn dan Peter Safran. Sebelumnya, film Superman mampu mencatat hasil yang lebih positif dan memberi harapan baru bagi masa depan DC Studios.
Meski demikian, para pengamat industri menilai performa sebuah film tidak hanya ditentukan oleh akhir pekan pembuka. Penayangan di berbagai negara serta pendapatan dari platform digital dan lisensi masih berpeluang membantu memperbaiki total pemasukan film dalam beberapa bulan ke depan.
Hingga kini, Warner Bros belum memberikan tanggapan resmi mengenai proyeksi kerugian tersebut. Namun, perkembangan performa Supergirl masih terus menjadi perhatian, mengingat film ini merupakan salah satu proyek penting dalam strategi jangka panjang DC Studios.

